Selasa, 20 April 2010

SERSA

Diposting oleh Putri Benjoo di 06.26 2 komentar

Kring… kring

Suara bel pertanda jam pelajaran berakhir berbunyi nyaring. Segera kumasukkan buku-buku yang ada di atas meja kedalam tasku. Adrian, sang ketua kelas segera maju kedepan untuk memimpin doa. Suasana yang tadinya ramai dengan suara-suara gaduh, kini mendadak hening sesaat. Adrian pun segera melangkah maju untuk memimpin doa.

“ Marilah teman-teman sebelum pulang ada baiknya kita berdoa terlebih dahulu” sahut Adrian sambil menundukkan kepalanya perlahan-lahan.

“doa mulai” sambung Adrian lagi.

Segera kutundukkan kepalaku dan berdoa didalam hati. Berharap Dewi Fortuna selalu menghampiriku. Suasana hatiku yang tadinya penuh sesak dengan masalah yang ada, kini mendadak berubah menjadi damai dan tenang. Hembusan angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambut ikalku, menambah kekhusyukanku untuk berdoa. Entah berapa lama aku memejamkan mata untuk berdoa, yang jelas hatiku merasa tenang dan damai.

“ hei !” tiba-tiba Sekar, sahabat sekaligus tetanggaku, sudah berdiri di depan mejaku.

“ ih, ngagetin aja! pelan-pelan tau” jawabku sambil mengelus-elus dada.

“ kamu sih ! doa aja pake lama” sahut Sekar sambil berlalu dari hadapanku.

loh, teman-teman yang lain mana?” tanyaku sambil berjalan mengikuti langkah kaki Sekar.

“udah pada cabut” jawabnya singkat.

“aku doanya kelamaan ya?” tanyaku lagi.

“udah tau nanya!” ledek Sekar.

Tak banyak bicara lagi, kami berdua pun segera berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah. Tampak Bunda telah menungguku didalam mobil.

“Kar, aku pulang dulu ya!”sahutku kepada Sekar yang juga sedang sibuk mencari-cari mobilnya.

“iya… iya!” jawabnya singkat.

“da…da… Sersa” Sersa adalah singkatan nama kami berdua yaitu Sekar dan Nessa.

Segera aku mempercepat langkah kakiku menuju mobil berwarna Ungu kesayangan Bunda itu.

“Bunda” sapaku hangat, saat tiba didalam mobil.

"masih temenan sama si Sekar ” jawaban Bunda itu tak seperti yang aku harapkan.

“Kok, Bunda gitu sih” jawabku heran.

“berapa kali Bunda udah bilang gak usah temenan sama si Sekar itu lagi” teriakan Bunda itu sontak membuatku kaget bukan kepalang. Tak pernah sebelumnya, Bunda berkata sekasar itu.

Aku terdiam begitu saja, tak ku biarkan sedikit pun kata-kata keluar dari mulutku. Itu semua kulakukan demi kebaikan aku dan Bunda. Agar semua pertengkaran ini tidak berbuntut panjang. Sepanjang perjalanan menuju rumah tak sedikit pun aku dan Bunda berbicara. Suasana didalam mobil pun terasa amat kaku bak berada di tengah badai Es.

“huh, akhirnya sampai juga” ujarku didalam hati. Segera kulangkahkan kaki ini menuju kamarku yang terletak dilantai dua.

Tanpa basa-basi lagi, segera kubaringkan badanku ini diatas tempat tidur bergambar Super Mario, animasi kesukaanku. Lega rasanya, semua penat selama diperjalanan tadi, hilang sudah entah kemana. Akan tetapi, entah mengapa aku ingin mencari tau alasan Bunda melarang persahabatanku dengan Sekar. Padahal, sebelumnya Bunda tidak pernah melakukan hal seperti itu kepada teman-temanku yang lain. Berbagai presepsi muncul dikepalaku, ada yang bersifat Positif bahkan Negatif.

come on, cha ! positif thinking, dong!” sahutku didalam hati. Aku pun mencoba untuk membuang pikiran-pikiran negatif yang bersarang dikepalaku.

“Prok… prok “ tiba- tiba terdengar suara langkah kaki yang tak asing lagi bagiku.

“Nessa “ teriak suara Ayah memanggil namaku dari balik pintu kamar.

“iya, Ayah !”jawabku sambil melangkahkan kaki menuju pintu kamar dengan raut muka yang malas.

“siap-siap, gih!”

“Ayah bakalan ngajakin kamu, Bunda dan Raissa kerumah Oma di Bogor” perintah Ayah yang masih lengkap mengenakan pakaian kantornya.

loh, kok gitu ?” tanyaku heran dengan keputusan Ayah yang tiba-tiba itu.

“Oma lagi sakit. Cepet ganti baju!” perintah Ayah sambil berlalu dari hadapanku.

Sebagai anak yang baik, aku pun menuruti perintah Ayah. Segera ku tarik Ransel Hitam, hadiah dari Turnamen Basket kemarin. Kumasukkan beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya. Hal-hal seperti ini memang sudah biasa terjadi. Karena Ayahku merupakan sosok orang yang terkadang melakukan hal-hal tanpa terencana. Sehingga membuatku kerepotan seperti ini.

Setelah semuanya siap, aku pun segera menarik ranselku. Dan segera berlari menuju garasi mobil. Tampak Ayah, Bunda dan Raissa telah menungguku didalam mobil. Dengan segera kumasukkan ranselku kedalam bagasi mobil.

“idih, lama banget !”sahut Raissa, adik perempuanku dengan cerewetnya.

“baru nunggu 15 menit doang, udah ngomel. Kemarin Kakak nunggu kamu, di mall berapa lama coba ?” sahutku balik bertanya pada Raissa. Ia pun hanya membalas pertanyaanku itu dengan senyumannya saja. Disepanjang perjalanan menuju rumah Oma, aku tak banyak melakukan sesuatu. Hanya mendengarkan i-pod unguku dan terus berdoa didalam hati agar Bunda tak marah lagi padaku.

Dua jam telah berlalu, akhirnya kami pun sampai dirumah Oma. Sambutan hangat Oma, tak membuatku lupa dengan kejadian tadi siang. Aku tak sampai pikir, Bunda yang selalu bersikap baik terhadap semua orang. Kini, berubah jadi sosok yang pemarah dan melarang persahabatanku dengan Sekar. Sejuta pertanyaan tiba-tiba muncul dibenakku, ingin rasanya aku menanyakan semua ini. Tapi, bagaimana dari tadi Bunda sedikit pun tak menegurku.

“Ada masalah apa, Cha?” tanya Oma yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku dan mengacaukan lamunanku.

“gak ada kok, Oma ! Oma udah sembuh ?” tanyaku dengan polosnya.

“Oma udah sembuh, kapten !” ledek Oma.

“bagus, dong!

“ya sudah ! kalo gitu kamu istirahat ya ?” sambung Oma sambil menunjukkan jarinya ke sebuah kamar didekat ruang tamu. Itu isyarat yang diberikan Oma kepadaku, agar aku segera beristirahat. Tak perlu berpikir panjang lagi, segera kuturuti perintah Oma itu.

Aku pun segera membaringkan badanku yang memang letih ini kekasur empuk berbalut Bed Cover rajutan tangan terampil Oma. Ternyata langkahku ini telah didahului Adikku Raissa, ia telah tertidur pulas diatas kasur empuk itu.

“Ssa, geser donk!” pintaku kepada Raissa yang terlihat telah tertidur pulas, aku mencoba menguncangkan tubuh mungilnya.

“ha !” lengkingan suara Raissa mengagetkanku. Ternyata dia telah menipuku, dia hanya berpura-pura tertidur.

“dasar jelek” ledekku kesal. Aku pun menarik bantal guling yang ada didekatnya.

“Kak Chacha” sapa Raissa tiba-tiba. Chacha adalah nama panggilanku dirumah.

“kenapa, Icca?” tanyaku kepada Raissa dengan memakai nama panggilannya juga.

“ehm… Kak Chacha tadi dimarahin Bunda ya?” tanya Raissa dengan polosnya.

“iya. Emangnya Kenapa?”jawabku sambil mencoba memejamkan mata.

“pasti karena temenan sama Kak Sekar” jawab Raissa sok tau.

“aha” jawabku singkat. Aku pun segera memejamkan mataku yang memang sudah ngantuk.

“oh, gitu ! Raissa tau kenapa Bunda ngelarang Kakak buat temenan sama Kak Sekar” perkataan Raissa tadi itu sontak membuatku kaget. Aku pun segera membuka mataku lebar-lebar dan mempertajam telingaku.

“kenapa? Cerita dong, ca!” sahutku dengan tampang ingin tau.

“ehm… goceng dulu” ledek Raissa sambil menaikkan alisnya sebelah.

“tenang aja ! tapi kamu harus cerita dulu” jawabku dengan nada suara yang agak memaksa.

“ok… gini, Kak ! kata Bunda, Mamanya Kak Sekar itu perempuan gak bener. Jadi Bunda takut kalo Kak Chacha temenan sama Kak Sekar” Ujar Raissa, sambil memamerkan behel warna-warninya itu.

“Bunda tau darimana?”jawabku kaget. Aku pun menarik nafas panjang, seolah tak percaya dengan perkataan Raissa itu.

“walaupun emang Mamanya Sekar kayak gitu. Tapi Sekarnya enggak kok” Bela ku dengan wajah yang ngotot.

Tanpa pikir panjang lagi aku pun segera meninggalkan Raissa yang masih bigung dengan tindakanku tadi. Segera aku berlari menuju ruang tamu. Aku ingin mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan Raissa tadi kepada Bunda.

“Bunda !” pekikku sedikit tidak sopan.

“kenapa?” tanya Bunda yang sedikit kaget dengan lengkingan suaraku.

“sekarang, Nessa tau kenapa Bunda gak ngizinin Nessa temenan sama Sekar, karena dia itu bukan dari keluarga baik-baik, kan?” tanyaku dengan tatapan mata yang tajam. Bak, seekor Elang yang ingin menangkap mangsanya.

“iya ! Ibunya itu perempuan gak bener !”teriak Bunda.

“tapi Sekarnya gak, Bun !” Pekikku dengan tetesan air mata yang tiba-tiba jatuh membasahi pipi Cabiku .

“mungkin sekarang gak ! tapi untuk kedepan gimana? Kamu bisa Jamin itu?” tanya Bunda lagi.

“Sudah-sudah ! Apa-apaan ini” tiba-tiba Ayah datang menghentikan pertengkaran aku dan Bunda.

“Bunda, jahaaaat” pekikku kencang.

Aku pun berlalu meninggalkan Bunda yang sedang emosi itu. Segera aku berlari menuju kamar yang tadi aku tempati bersama adikku, Icca. Kututupi mukaku dengan bantal guling, aku pun menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa, aku harus berpisah dengan sahabat terbaikku. Sahabat yang selalu membantuku disaat aku sedang susah, dan disaat kebangkrutan usaha Ayah dulu. Masih terekam kejadian itu diotakku, kejadian dimana aku dapat mengetahui siapa Sekar itu sebenarnya.

Suatu hari ketika aku lupa membuat PR dari Bu Anita, karena sudah dua minggu aku tak masuk sekolah dikarenakan penyakit Demam berdarah. Akan tetapi, Bu Anita tak mau mendengar penjelasanku itu. Ia pun mengancam semua siswa yang tidak membuat PR untuk membersihkan WC. Keadaanku yang lemah membuatku tak mampu untuk melakukan itu. Akhirnya, Sekar dengan baik hati memberikan PR-nya kepadaku. Aku telah menolak kebaikaannya itu. Akan tetapi, Sekar tak mau mendengar penjelasanku itu. Ia pun mengancam akan memusuhiku jika aku tak menerima tawarannya itu. Dengan berat hati, aku pun menerima tawaran Sekar. Alhasil, Sekar pun dihukum Bu Anita untuk membersihkan WC. Saat itu, aku merasa menjadi orang yang paling jahat. Karena aku membiarkan sahabatku dihukum karena ulahku sendiri. Tak hanya itu, saja berbagai macam kebaikan telah Sekar lakukan untuk membantuku.

Akan tetapi, dengan mudahnya Bunda melarangku berteman dengan Sekar. Dengan alas an yang menurutku sepele itu.

“Kak Chacha, jangan sedih dong ! Icca yakin Kak Sekar gak sama dengan Mamanya” sahut Raissa yang tiba-tiba telah berdiri dihadapanku sambil mengelus-elus kepalaku. Segera aku menoleh kearah Raissa dan kupeluk adik perempuan kesayanganku itu. Aku tak menyangka, anak kelas 3 SD seperti dia dapat bersikap dewasa disaat-saat seperti ini.

“makasih ya, ca!”ujarku dengan berlinangan air mata.

“Icca sayang Kak Chacha, Kakak jangan sedih ya!” Raissa pun mencoba menghapus air mata yang membasahi pipiku dengan tangan mungilnya.

“Kakak Chacha juga sayang Icca”sahutku singkat.

Aku dan Raissa pun tidur berdampingan. Kami memejamkan mata bersama, berharap semua kesedihan menjauh dari kehidupan kami. Sejak kejadian malam itu, hubunganku dengan Bunda tak berjalan seperti biasanya. Bunda tampak tak terlalu peduli lagi denganku.

Lima hari sudah, kami berada dirumah Oma. Ayah pun memutuskan untuk mengajak kami pulang ke Bandung, karena kondisi fisik Oma sudah berangsur pulih. Pagi-pagi sekali Ayah telah membangunkan aku dan Raissa untuk bersiap-siap pulang ke rumah kami di Bandung. Karena hari ini aku dan Raissa harus segera mulai masuk sekolah. Dengan mengenakan seragam sekolah lengkap, kami pun berpamitan dengan Oma. Ayah menyuruh aku dan Raissa untuk langsung pergi kesekolah.

Dua jam telah berlalu, akhirnya aku dan Raissa sampai kesekolah kami, SD Terpadu Penabur III, Bandung. Segera ku langkahkan kakiku, menuju ruang kelas yang berada di lantai dua. Ruang kelas masih tampak sepi, wajar saja jam baru menunjukkan pukul 05.45. Sedangkan kegiatan belajar- mengajar baru dimulai pukul 06.45. Aku pun segera menempati tempat dudukku, yang terletak dibangku paling depan. Karena suasana kelas masih sepi, aku pun memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Entah berapa lama aku tertidur didalam kelas.

“Nessa” sahut Miss Ratna yang tiba-tiba telah berdiri dihadapanku.

“ya, ampun !” teriakku kaget bukan kepalang.

“ya udah gak papa kok! Miss ngerti kamu baru pulang dari bandung, kan?” Tanya Miss Ratna, guru bahasa Inggris yang sangat mengerti aku.

“kok Miss tau?” aku balik bertanya.

“tadi adikmu Raissa memberitahu, pasti kamu itu kelelahan”

“ahaha, maaf ya miss”aku pun sedikit tertawa kecil.

“ya sudah, sekarang kamu konsentrasi untuk belajar, ya” Miss Ratna pun berlalu dari hadapanku dan mulai mengabsen kami satu persatu.

Aku menoleh kearah teman-teman satu kelasku, tampak tak ada yang berubah dari mereka. Kecuali bangku kosong yang ada disamping tempat dudukku. Itu tempat duduk Sekar.

“Sekar, kemana ya?”tanyaku didalam hati.

Belum sempat aku bertanya kepada Jesicca, yang tempat duduknya tepat berada dibelakang tempat dudukku, Bu Ratna telah memanggil namaku untuk mengabsen.

“Nessa Makayla Dinda”

yes, miss! ” Jawabku singkat.

Tanpa pikir panjang lagi, segera ku balikkan badanku mengarah ke tempat duduk Jesicca.

“Jess, Sekar mana?” Tanyaku dengan rasa ingin tahu.

“dia gak ngasih tahu kamu ya?” Jesicca balik bertanya.

“gak! Emangnya dia kenapa?” Tanyaku makin penasaran.

“dia kan pindah ke Malang, ikut nyokapnya pindah kerja kesana” Jawaban Jesicca itu sontak membuatku kaget bukan kepalang.

“kok dia gak bilang ke aku, sih!” sahutku kesal dengan tindakan Sekar.

Aku pun segera membalikkan badanku lagi. Aku tak sampai pikir, Sekar tega meninggalkanku tanpa memberitahuku sebelumnya.

Pikiranku mulai kacau, badanku terasa panas-dingin, pandanganku pun mulai meredup. Dan akhirnya aku tak sadar sama sekali. Entah berapa lama aku mengalami hal seperti itu. Hingga aku terbangun, dan aku telah berada di ruang UKS sekolahku.

“Nessa, bangun sayang!” sahut Bunda sambil mengelus-elus pipiku.

“apa yang terjadi?” tanyaku sambil sedikit demi sedikit mengingat-ingat kejadian yang terjadi sebelumnya.

“kamu tadi pingsan, cha” jawab Ayah yang juga berada di ruang UKS itu.

“Sekar udah pergi, yah!” rengekku kepada Ayah.

“ia, Ayah sudah tahu kabar itu tiga hari yang lalu”

“Kenapa Ayah gak kasih tau Nessa?” tanyaku sambil mencoba duduk.

“Bunda gak ngizinin”

“lagi-lagi karena Bunda, sekarang Bunda udah puas”Ujarku dengan suara yang agak keras dan cucuran air mata.

“maafin Bunda, sayang ! Bunda cuma mau yang terbaik untuk kamu, cha!”

“Bunda mau kamu berteman dengan anak-anak dari keluarga baik-baik”

Aku pun segera terdiam mendengar penjelasan Bunda itu. Segera kutundukkan kepalaku dan berbaring di pundak Ayah. Kondisiku memang sangat lemah saat itu, semakin aku banyak bergerak semakin sakit pula kepalaku.

Sejak saat itulah, aku dan Sekar tak pernah bertemu kembali hingga saat ini. Segala cara telah aku tempuh untuk mencari tau keberadaannya. Salah satunya dengan cara menanyakan alamat rumah Sekar yang baru kepada tante Rini, Adik dari Ibu Sekar. Akan tetapi, Tante Rini pun tak mengetahui alamat rumah Sekar di Malang. Setelah Dua tahun berselang aku pun pindah sekolah ke Palembang.

Diposting oleh Putri Benjoo di 06.20 0 komentar
ketika kita mendapatkan masalah kita mengujat tuhan,
kita mengomel dan memarahinya

tuhan itu adil ?

Diposting oleh Putri Benjoo di 06.08 0 komentar
hahahha
well, gue tau tuhan itu adil
tapi terkadang kita berpikir tuhan itu gak adil
why we can say that?
iya terkadang ketika kita ada masalah

aku

Diposting oleh Putri Benjoo di 06.06 0 komentar
blog baru

well, blog lama udah gak tau kabarnya gimana
agak disayangkan knp tu blog lama gak bsa dbuka, padahal di posting udah dari zaman buyut gue muda
elee..
hahahha
ketawaan boongnya

aku

Diposting oleh Putri Benjoo di 06.06 0 komentar
blog baru

well, blog lama udah gak tau kabarnya gimana
agak disayangkan knp tu blog lama gak bsa dbuka, padahal di posting udah dari zaman buyut gue muda
elee..
hahahha
ketawaan boongnya
 

benJOB's Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | Best Kindle Device